Monday, January 21, 2019

Gimana Cerita Waktu Melahirkan Si Kembar???

Sejak awal, setelah tau hamil kembar saya mencoba membaca dari banyak artikel dan ulasan di internet tentang kehamilan kembar, dan ternyata mau nggak mau saya harus menyadari bahwa kehamilan kembar termasuk kehamilan beresiko. Jadi mungkin untuk bisa melahirkan kembar dengan cara normal bisa dibilang peluangnya 50-50.


Tapi setiap kali kontrol kandungan saya selalu berusaha (ngeyel) request ke dokter agar saya bisa diusahakan melahirkan kembar melalui proses persalinan normal. Kalau ditanya apa alasannya? Karena saya ingin setelah melahirkan bisa langsung ngejar kakak-kakak si kembar yang tentunya masih butuh perhatian juga dari saya.

Selain itu, banyaknya mitos yang beredar di masyarakat tentang melahirkan sesar sejujurnya cukup membuat saya keder.

Saya masih ingat pengalaman setelah melahirkan si kakak, ada salah satu pertanyaan yang bikin saya nelen ludah sampai pengin keselek ...

👵 : Nduk, gimana nduk ini kemaren lahiran normal apa sesar???

Pas saya jawab, "Alhamdulillah normal"

Eh si ibu tersebut kasih komentar yang bikin ngowoh, "Oh bagus kalau gitu nduk kamu wedok temenan (perempuan beneran)!!!"

Asli saat itu saya melongo ... Sambil mbatin, "Berarti kalau lahirannya nggak normal gitu nggak perempuan ... Lah terus kemaren selama hamil apa nggak diakuin jadi perempuan ..."

Ah entahlah kadang agak ruwet mikir cara pikir mereka 😅😅

Belum lagi mitos yang dulu sempat bikin salah satu sahabat saya yang dilahirkan melalui jalan sesar dibully orang sekitarnya, katanya dia dianggap mokong alias nakal karena lahirnya nggak lewat pintu alias loncat lewat jendela 🤦

Asli lho mitos-mitos kayak gitu sempat bikin saya ngeyel pokoknya kalau bisa saya harus bisa melahirkan normal. Jadi sejak awal saya ngeyel ke dokter maunya melahirkan normal.

Tapi Qadarullah, sepertinya Allah punya rencana lain. Saya sempat mengalami kontraksi dini di usia kehamilan 26-27 minggu. Ini juga sebenarnya yang membuat planning saya untuk ikut senam hamil sebagai bentuk ikhtiar saya bisa melahirkan normal tidak bisa saya lakukan karena nggak dapat acc dari dokter kandungan.

Ya kali boro-boro mau senam hamil, wong duduk di bawah saja setelah mengalami kontraksi dini itu saya sudah kesulitan. Belum lagi waktu masuk trimester 3 perut sering kerasa kenceng-kenceng tiap saya buat jalan sedikit atau sekedar berdiri nggak sampai 5 menit.

Jadi okelah saya mencoba "santai" mengikuti alur yang ada, sembari mencari-cari informasi dari sekitar seberapa besar peluang saya untuk bisa melahirkan kembar dengan cara normal.

Ternyata seiring waktu muncul beberapa kondisi yang membuat saya mempunyai feeling sepertinya saya mulai harus bisa pasrah berdamai dengan keadaan kalau-kalau ternyata harus melahirkan dengan jalan sesar. Sebab tiba-tiba saya ambeien.

Fyi, ambeien juga dianggap bisa berpotensi menyebabkan pendarahan pada beberapa proses persalinan normal. Sehingga untuk kasus ambeien ini dokter juga memberi rujukan saya agar berkonsultasi ke dokter bedah untuk lebih amannya. So far dokted bedah sudah acc nggak ada masalah dengan ambeien saya kalau misal mau melahirkan melalui jalan normal.

Tapi kemudian muncul balada tensi saya yang beberapa kali sempat di atas normal, dan posisi bayi yang semula satunya sudah pewe (posisi wenak) dan hanya satu yang sungsang tiba-tiba muter berubah jadi sungsang dan melintang!!!

Duh ada-ada saja ...

Meski demikian saya tetap berusaha pasrah dan lagi-lagi saya yakin apapun jalan lahirannya nanti sudah sesuai skenario Allah.

Sehingga tak lupa saya pun selalu berdoa meminta yang terbaik dari Allah SWT. Seperti yang selalu dinasehatkan oleh ibu, bahwa kadang apa yang kita anggap baik mungkin bukan terbaik untuk kita. Sebaliknya bisa jadi yang kita anggap nggak baik malah yang paling baik untuk kita.

Jadi pikir saya, ah bodoh amat nanti sama komentar-komentar miring orang-orang sekitar.

Sehingga fokus harapan saya pun jadi lebih luas. Kalau dulu penginnya saya bisa melahirkan normal biar bisa mengejar kakak-kakaknya si kembar, kali itu doa saya berubah menjadi, apapun jalannya saya ingin bisa melahirkan dengan sehat dan selamat semua baik bayi-bayi yang saya kandung maupun sayanya juga penginnya bisa selamat!!! Anak-anak saya (kakak-kakak si kembar) dan suami juga sehat wal'afiat.

Hingga akhirnya sekitar usia kandungan 34-35 minggu, dokter sedikit was-was melihat kondisi bbj (berat badan janin) bayi-bayi saya yang dianggap lebih besar dari ukuran bayi pada umumnya, dan hal tersebut dianggap cukup membahayakan kami. Sehingga dokter sempat ada wacana kalau bbj semakin over kemungkinan bayi-bayinya harus segera dilahirkan. Satu-satunya pesan dokter saat itu agar saya berhati-hati menjaga kandungan jangan sampai kontraksi duluan, dan jika ada apa-apa kami disuruh langsung telepon beliau.

Saat kontrol kembali seminggu kemudian, ternyata sesuai hasil USG bbj si kembar sudah di angka 2,8 kg dan 3,1 kg. Ditambah kondisi placenta yang ternyata terlihat mulai bolong-bolong alias mengalami pengapuran. Saat itu dokter sempat menyarankan saya untuk segera menjalani prosedur sesar saja. Tapi mengingat usia kandungan masih 35 minggu saya pun keberatan. Apalagi waktu itu saya sempat nguping kalau ruang nicu di rs tempat tujuan kami bersalin sedang penuh. Jadi lagi-lagi saya menawar agar jangan dilahirkan dulu.

Oh iya saat tawar menawar tersebut sebenarnya suami sempat guyonan sama dokternya, "Dok, seandainya pun harus sesar berarti bisa dong ya dok pilih tanggal??? Kalau bisa boleh nggak pilih tanggal 18 dok???"

Dokter saat itu langsung nyeletuk sambil ketawa, "Oalah biar kayak plat nomer gitu ya pak???" 😂😂😂

Tapi waktu itu saya protes ke suami, "Ah jangan 18 lah, karena kalau itungan hpht, harusnya tanggal 22 usia kehamilan saya baru pas 37 minggu."

So far waktu itu obrolan kami hanya kami anggap angin lalu, dan dokter masih mempertimbangkan permintaan kami untuk bisa melahirkan tepat minggu dan memberi kesempatan kontrol seminggu lagi.

Saat kontrol berikutnya sekitar tanggal 15 desember 2018, yang mengejutkan nggak cuma bbj bayinya yang naik jadi 3,6 kg dan 3,3 kg. Bb saya pun dalam waktu seminggu tiba-tiba melonjak bertambah 5 kg. Saat itu total jarum timbangan saya menunjukkan angka 115 kg. Dengan kondisi tersebut ditambah posisi si kembar yang ternyata masih melintang dan sungsang sekali lagi dokter pun menyarankan agar kami  segera memilih tanggal dan mengikuti saran beliau untuk segera melahirkan si kembar, tentunya melalui jalan sesar.

Saya sempat menawar kalau boleh agar diundur saja 2 minggu lagi. Ya ... Kalau boleh lahirnya di atas tanggal 24 desember lah. Hpl 40 week nya sekitar tanggal 15 januari sih, tapi seenggaknya pikir saya kalau di atas tanggal 24 bayi-bayi kami sudah cukup mature. Tapi kali itu dokter menolak, dengan menyampaikan nggak berani mengambil resiko menunggu sampai lewat tanggal 24.

Alasannya : ukuran bayi terlalu besar dan kembar (jumlahnya dua). Dokter waktu itu menyampaikan, sebenarnya mungkin dokter berani nunggu lahirnya sampai hpl tiba "kalau" target bbj nya nggak segede itu. Ya, setidaknya masing-masing 2,5 kg mungkin dokter masih nunggu. Tapi karena 3,6 dan 3,3 kg dokter nggak berani nunggu.

Kuatirnya kalau ditunggu bbj semakin over, rahim saya akan over melar sehingga nantinya akan beresiko mengalami pendarahan.

Terus alasan lainnya dokter nggak mau nunggu keduluan kontraksi, karena konon kuatir bayinya "kejepit" di dalam. Soalnya kan dua, ukurannya gede-gede, terus posisi satu melintang satu sungsang jadi mungkin bisa dibayangkan gimana mereka umpel-umpelannya di dalam.

Bisa dibayangkan sih, soalnya saya sendiri setiap selesai makan selalu ada episode perut kencang-kencang nggak karuan. Si kembar di dalam kayak yang nendang-nendang njedok-njedok gitu. Kalau kata suami mungkin karena lambung saya kepenuhan jadi mereka protes soalnya ruangannya makin umpel-umpelan. Haha kalau ini mungkin khayalan kami saja ya 😂😅

Lalu hal yang dikuatirkan lainnya, kuatir ada resiko bayi sudden death di dalam.

Oh iya meski demikian sejujurnya mendengar opsi harus sesar dan penjelasan dokter saat itu,  dalam batin saya sempat ada niat mau kabur saja nyari dokter lainnya untuk second opinion. Suudzon saya sih, halah iya ta ... Apa itu nggak alasan dokter saja biar saya mau sesar?!  Duh, maap ya dok saya sempat suudzon ... Nah kan pasien ndableg sih ini ... Hehe ...

Tapi sepanjang perjalanan pulang keinginan saya kabur nyari dokter lain kepentok dengan pertanyaan, mau lahiran sama dokter siapa lagi kira-kira???

Maklum sepanjang kehamilan beberapa kali saya sudah survey ke beberapa teman tentang dokter kandungan yang ada. Sejauh itu menurut kami memang dokter yang kami datangi tersebut satu-satunya paling rekomended. Setidaknya yang bersedia melakukan tindakan kalau sewaktu-waktu saya melahirkan di malam hari. Untuk dokter lainnya beberapa mempunyai track record di teman-teman kalau mereka tidak mau melakukan tindakan persalinan di malam hari. Lho la terus kalau lahiran malam, gimana? Konon kata teman-teman kalau malam biasanya disarankan dengan bidan yang ada.

Lho emang kenapa kalau sama bidan? Ya nggak apa-apa sih, tapi kalau dengan kondisi kehamilan saya yang kembar beserta keluhan lainnya tadi saya lebih sreg kalau persalinan saya dibantu dokter, ditambah lagi kan ada wacana diagnosa mengarah sesar tadi ... Jadi pikiran sudah kemana-mana tuh, nggak berani ambil resiko lah ya istilahnya.

Sempat terbersit bayangan, ah andai saya lahiran di Surabaya sama dokter yang menangani lahiran kakak-kakaknya jangan-jangan bisa normal nih. Tapi kemudian saya hapus bayangan tersebut, karena dalam hati, saya yakin kalau tiap bayi punya jodoh sendiri sama dokter kandungan yang mau dipilihnya. Toh mau lahiran normal atau sesar, semua pasti sudah seijin Allah SWT.

Saya pun lagi-lagi berdiskusi dengan suami baiknya bagaimana. Satu yang kami sepakati bersama saat itu, bahwa kami tidak mau egois tega menukar keselamatan bayi-bayi kami dengan sesuatu yang bakal membuat kami menyesal seumur hidup hanya karena kengeyelan saya untuk bisa melahirkan normal.


Sehingga malam harinya saya mencoba istikharah meminta jawaban apa yang terbaik untuk kami. Apakah melahirkan lebih awal di usia kandungan 36 minggu adalah yang terbaik untuk kami? Jika pun yang terbaik kami berharap Allah memberi kemantapan hati untuk saya di tanggal berapapun nantinya.

Tak hanya istikharah, saya juga meminta pendapat dari beberapa teman tentang keputusan mana yang terbaik untuk kami.

Dari beberapa sharing teman, ada teman yang bercerita tentang pengalamannya yang mirip dengan kondisi saya, di mana konon katanya BB sempat naik 5 kg dalam waktu seminggu. Ternyata saat itu dia mengalami pre eklamsia. Tak sampai di situ bahkan dia sempat mengalami pendarahan sesaat setelah melahirkan sehingga dia sempat koma. Dia pun menyarankan agar saya mengikuti saran dokter saja demi keselamatan kami.

Selain itu ada teman lainnya yang juga setuju dengan pendapat dokter jika rahim over melar maka beresiko terjadi pendarahan, karena dia sempat mengalaminya. Bedanya saat itu dia hamilnya hamil tunggal. Lah saya kan jadi mikir kalau yang hamil tunggal saja beresiko gimana dengan yang hamilnya bayi dua gede-gede bbj nya kan.

Saya pun mencoba mencari informasi seberapa besar peluang saya untuk bisa langsung mengejar anak-anak saya setelah saya melahirkan andai harus sesar?

Dari sekian banyak jawaban ternyata banyak teman-teman yang kasih support positif, konon katanya untuk recovery pasca melahirkan sesar itu cepet kok. Beberapa juga menyarankan agar saya minta "obat dewa" saja alias obat yang terbaik semua.

Lalu untuk urusan ASI kata teman-teman juga selama dokter kandungan saya pro ASI, insya Allah nggak akan ada masalah dengan proses pemberian ASI saya. Nanti saya bisa minta obat yang tidak mengganggu produksi ASI saya.

Oke, dari beberapa sharing tentang resiko yang pernah dilewati oleh teman-teman  dan pengalaman sesar tersebut akhirnya saya mencoba pasrah.

Lalu untuk pilihan tanggal saat itu jika memang oke, maka pilihan tanggal yang diajukan dokter adalah tanggal 18, 19, 20.

"Pilih tanggal 18 aja biar cantik kan 181218", begitu beberapa saran yang masuk. Terus saya jadi ingat request suami yang asal nyeplos tersebut. Tapi waktu itu saya belum mau gegabah milih tanggal hanya karena cantik. Dalam hati, awalnya saya malah sempat kepikiran milih tanggal 20 saja. Pikir saya semakin lama kan semakin mature.

Tapi ternyata 2 hari setelah saya mencoba istikharah entah bagaimana, hati saya lebih mantap memilih tanggal 18 desember. Alasannya bukan karena tanggal cantik, tapi jika saya memilih tanggal 18 maka dokter masih standby dalam kota di tanggal 19 dan 20. Jadi kalau ada apa-apa seenggaknya masih ada dokter. Sebaliknya kalau saya pilih tanggal 20, maka tanggal 21 ke atas dokter sudah di luar kota. Kebetulan dokter sedang tidak di tempat pada tanggal 21 tersebut.

Lantas saya pun berdoa, agar Allah memberi pertanda pasti jika memang tanggal 18 adalah tanggal yang tepat untuk usia si kembar dilahirkan. Jika pun belum tepat saya yakin Allah akan mengundur jadwal melahirkan saya dengan cara-Nya.

Hingga akhirnya saya sampaikan kepada suami kalau hati saya mantap memilih tanggal 18 Desember 2018. Suami setuju, dan saya pun mengabarkan pilihan tersebut kepada dokter melalui whatsapp.

Oleh dokter kami disarankan untuk menuju rs tanggal 17 desember 2018, agar bisa dilakukan beberapa prosedur cek lab dsb untuk persiapan melahirkan sesar di hari berikutnya.

Oke kali itu hati saya lebih yakin lagi, jika memang tanggal 18 bukan yang terbaik pasti akan ada hasil lab atau sebangsanya yang membuat prosedur sesar diundur kan ...

Jadi saya makin mantab pilih tanggal tersebut, karena kalaupun waktu itu harus mundur ke tanggal 19 atau 20 ya nggak masalah tok dokter kandungannya masih di tempat alias belum luar kota.

Oh iya kalau ada yang nanya kenapa tanggal 17 nggak masuk list pilihan tanggal? Jawabnya karena waktu itu dokter anaknya juga lagi nggak di tempat. Hehe ... Jadi ya sudah memang pilihannya antara 18,19 apa 20 itu.

Sesuai kesepakatan dengan suami karena suami masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaannya sebelum dapat cuti istri melahirkan, jadi kami memutuskan baru menuju RS sore sepulang suami dari kantor.

Sekitar pukul 16.30 suami pulang kantor, kami pun segera bersiap-siap meluncur ke rumah sakit tujuan kami untuk melahirkan ...

Bismillah ... Saat itu yang ada di benak saya, Insya Allah apapun nanti jalan melahirkannya, semua tentu sudah sesuai seizin Allah. Jadi kalaupun harus sesar saya nggak perlu kuatir sama mindset orang-orang awam. Apapun itu goal saya yang penting kali itu saya bisa melahirkan bayi-bayi dalam keadaan sehat dan selamat ke dunia ini.

Saya ingin melihat bayi-bayi saya terlahir selamat ke dunia ini, dan bisa memberikan ASI langsung untuk bayi-bayi saya ...

Saya ingin tetap bisa bertemu dengan anak pertama dan ke dua kami setelah melahirkan ...

Saya ingin tetap bisa bersama suami melanjutkan visi misi kami membersamai anak-anak ...


Oh iya sebenarnya saya sempat baper juga dengan pertanyaan mertua tentang keputusan saya sesar, "Nek lahiran normal gitu nggak wani ta???" (Kalau melahirkan normal gitu kamu nggak berani kah???)

Waktu itu saya cuma menjawab, justru kalau disuruh melahirkan sesar ini saya aslinya takut. Kan perut pakai dibelek-belek tuh ... Iya kalau malah nggak kenapa-kenapa ...

Saya jadi ingat sesaat sebelum keluar dari ruang dokter, saya sampai bilang, "Dok, apapun nanti pokoknya saya maunya hidup ya dok ..." Maksudnya sih ya jangan sampai saya mati di ruang operasi gitu ... Hiks ...

Terus dokternya waktu itu cuman jawab, "Ya Allah bukkk makanya kita kan ikhtiar nyari jalan yang terbaik dari yang paling baik buk, yang paling minim resikonya ...."

Jadi untuk faktor resiko ini lah sebenarnya akhirnya saya memang pasrah dan berdamai dengan keputusan sesar dari dokter.

Suami juga berusaha membesarkan hati saya. Kata suami nggak usah menghiraukan mitos-mitos yang ada, toh mau lahiran normal atau sesar kan bukan orang lain yang jalanin. Kalau ada apa-apa mereka bisa apa, paling bisanya cuman jadi penonton dan komen doang ... Toh paling ntar komennya, "Anuo (seandainya) yo ..." tapi yang nanggung resikonya tetep kita dan keluarga kita sendiri juga kan ...

Jadi ya sudahlah daripada anuo anuo, sejauh itu akhirnya kami mantap mengikuti saran dokter ... Saya pun terus berdoa bahwa keputusan kami saat itu tidak salah ...

Noted :
Btw ceritanya masih bersambung ya ...
Tapi sebelum lanjut, ini emaknya mau uber-uberan dulu yak sama kembar dan kakak-kakaknya juga ... Hehe ...
Soalnya kalau maksa ngelanjutin cerita bisa panjang dan lama, keburu dijewer suami ... Hehe ... 😅

2 comments:

  1. Assalamualaikum mba.. salam kenal. Wah ditunggu cerita lanjutannya ya mba hehe. Mba vety kalo boleh tau lahiran dgn dokter siapa dan di RS mana di Balikpapan. Kebetulan sy juga sedang hamil kembar :) terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wa'alaikum salam. Di RSPB mbak, dengan dokter Rizka Pramudhita. Maaf baru sempat balas mbak

      Delete