Monday, August 3, 2020

Maunya tuh beli apartemen ... tapi ...

Vf-Dulu jaman awal-awal setelah menikah, kami sempat berencana akan membeli satu unit apartemen. Alasannya simple karena saat itu dana kami belum mencukupi untuk beli rumah. Seingat saya saat itu jika harga rumah sekitar Rp. 250.000.000,- maka harga apartemen yang ditawarkan sekitar Rp. 150.000.000,-. Lumayan jauh kan terpautnya ... Nah tapi waktu itu marketer yang nawarin kami malah heboh sendiri maksa-maksa mending jangan apartemen lah mbak ... rumah saja lah mbak ... sabar-sabarin dikit deh mbak ... 

Ya sudahlah kita akhirnya sabar-sabarin juga. Qodarullah, Alhamdulillah kok ya saat itu Allah memudahkan kami untuk proses akad beli rumah. Setelah beli rumah ya memang Alhamdulillah lebih cocok sih ...

Nah tapi seiring waktu, ya gatel sih pengen punya apartemen juga. Soalnya mikirnya kan enak kalau ada apartemen bisa kayak punya hotel. Jadi kalau butuh apa-apa nggak perlu sewa hotel tinggal mampir aja ke apartemen milik pribadi. Hehe ...

Cuman pada akhirnya keinginan untuk beli apartemen itu mulai pupus juga ... Alasannya simpel, yang jelas sih karena ORA DUWE DUIT ... alias nggak punya duit. Haha ... Suami sempat sih ngajak beli apartemen nyicil gitu maunya ... Tapi waktu itu saya keberatan ... Alasannya saya belum berani kalau nyincil. Nanti kebanyakan nyicil malah bisa “mecicil” alias melotot ini nanti mata saya lihat arus keluar masuk uang bulanan. Hihi ...

Dan feeling saya kok ya pas bener gitu nggak mau diajak beli apartemen nyicil, karena di masa pandemi begini kan boro-boro mikir cicilan yak ... mending duitnya buat kebutuhan lainnya yang lebih primer. Ya kalaupun mau sekunder tersier berharapnya masih bisa nggak sampai harus tahan napas karena mikir cicilan tadi kan.

Nah nggak lama setelah itu kok ya pas saya naik taksi dapat driver taksi yang baik hati suka mengobrol serta curcol ngalor ngidul tentang pengalamannya beli apartemen. Jadi dia dulu sempat punya apartemen dua unit. Tapi pada akhirnya sekarang sudah nggak punya lagi, karena katanya pas disuruh bayar SHGB nya dia nggak sanggup bayarnya.

Emang sampai berapa sih biaya perpanjangan SHGB apartemen itu???

Kalau dulu seingat saya ibu pernah cerita sekilas juga, cuman ibu nyebutnya nggak pakai istilah SHGB. Ibu cuman bilang, beli apartemen itu nggak enak lho, soalnya nanti tiap berapa puluh tahun sekali kita harus bayar perpanjangan kontrak bangunannya. Lah saya nggak paham waktu itu. Saya kira ya paling cuman sepuluh juta lah ya ...

Nah ternyata kalau dari curcolan si driver taksi tadi, dia dulu beli apartemennya sih seharga 150 jutaan kayaknya. Nah baru disuruh bayar SHGB itu kalau nggak salah dia bilangnya 15 tahun apa 20 tahun gitu seharga 150 juta juga. Terus dia ngomel sambil meringis gitu sih, katanya, “Ya sama aja saya beli baru lagi dong ya ...”

Ditanya gitu ya saya tanya balik, “Emang kalau beli baru sekarang kira-kira harga apartemennya berapa pak??? Apa masih seratus lima puluh jutaan juga???”

Dia pun meringis sambil jawab, “Ya nggak sih mbak ... sekarang mah lebih ... Empat ratus lima puluh juta lebih ada kali mbak ...”

“Nah kan ... jangan-jangan malah sudah 1 M pak harganya ...” Jawab saya bercanda.

Terus si bapaknya ya jawab kurang lebihnya begini, “Sebenarnya nggak rugi sih kan saya juga sudah dapat untung nyewain apartemen itu setiap bulannya ...”

Cuma ya tadi sih masalahnya si bapak mungkin nggak kebayang harus bayar segitu lagi, dan duit sewa bulanannya juga sudah terlanjur nggak disisihkan untuk bayar perpanjangan SHGB tadi. Andai dia mau nyisihkan sejak awal mungkin nggak rugi juga dia punya dua apartemen.

Tapi ya terus terang kalau dari cerita si bapak ini kami ya jadi mikir dua kali kalau harus beli apartemen, soalnya ya tadi kalau dipakai sendiri kan berarti nggak ada pemasukan juga dari apartemen tadi. Toh kalaupun disewakan belum tentu juga kami bisa menyisihkan untuk ditabung kembali, mengingat meski nggak lagi ditempatin kalau apartemen itu tetap harus bayar biaya “maintanance” bulanannya.

Kisaran biaya maintanance pun beraneka ragam tergantung luas unit apartemennya tadi, yang saya tahu ada yang enam ratus ribuan per-bulan, satu juta an per-bulan bahkan ada juga yang sampai dua juta per-bulan. Eh tapi mungkin ada yang lebih kali ya ...

Oh iya biaya maintance ini bayangan saya dulu buat bayar orang yang bersih-bersih dalamnya unit apartemen ya biar nggak berdebu kalau lagi nggak ditempatin. Tapi kayaknya nggak ... (eh mungkin tergantung kebijakan masing-masing pengelola apartemen ya). Kalau yang saya pahami uang maintanance bulanan ini fungsinya lebih ke untuk pengelolaan perawatan gedung apartemen secara keseluruhan gitu. Ya semacam kalau di kompleks itu namanya uang kebersihan dan uang satpam gitu kali ya ... kali lho ya, kalau salah tolong dikoreksi biar kita sama-sama belajar. Hehe ...

Wah rugi dong berarti kalau investasi apartemen? Kalau kemaren ngobrol sama suami sih aslinya ya nggak rugi, asal ya tadi diplanning dengan tepat semuanya. Wong ya kayak cerita si Pak Taksi tadi sebenarnya nggak terlalu rugi juga kan harga apartemennya sendiri pada akhirnya juga jadi nambah beberapa kali lipatnya kan ...

Oh iya untuk SHGB ini sendiri nggak hanya berlaku untuk apartemen saja ya. Rumah pun kalau status sertifikatnya belum SHM, setahu saya setiap entah 15 tahun atau 20 sekali gitu tetap harus bayar perpanjangan SHGB nya.

Jadi kalau ditanya mending mana mau beli apartemen atau rumah, ya semua dikembalikan lagi sih sama keputusan masing-masing keluarga, yang penting jangan lupa semua harus direncanakan dengan matang sejak awal agar tidak menyesal di kemudian hari, karena menyesal itu tak pernah di awal, kalau di awal namanya perencanaan. Hehe ...



SHGB sendiri apa sih artinya? SHGB itu singkatan dari Surat Hak Guna Bangunan
Kalau SHM? Surat Hak Milik

No comments:

Post a Comment